Nasihat Kiai Jamal untuk Ustadz dan Ustadzah TPQ

 

Sekarang kegiatan sampean apa?” Tanya KH M Djamaluddin Ahmad kepada alumni Pesantren Tambakberas saat sowan.

Bisnis kiai, buka konter hape,” ungkap sang santri dengan menunduk.

Rumiyin kulo mulang TPQ, tapi naliko sampun buka konter, kulo prei mboten mulang dateng TPQ maleh,” lanjutnya.

Kiai Jamal, sapaan keseharian beliau, diam sejenak. Dengan agak berat, pengampu pengajian Kitab Hikam ini mengingatkan bahwa mengajar di TPQ adalah khidmat terbaik dalam hidup.

Kamu mengajarkan anak TPQ bacaan basmalah dan alfatihah, maka pahala yang akan kamu terima akan terus mengalir,” katanya. Ketika santri TPQ yang kamu didik membaca basmalah saat hendak makan, belajar dan kegiatan apapun, maka kamu juga akan memperoleh pahalanya, lanjutnya.

Belum  lagi saat santri TPQ itu bisa membaca al-fatihah dari shalat yang dikerjakan. “Berapa pahala yang kamu terima dari mengajarkan surat al-fatihah tersebut?” kata salah seorang  Majelis Pengasuh PP Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang ini. 

Hidup itu jangan hanya memburu gengsi, apalagi kalian adalah santri Tambakberas” katanya. 

Menjadi ustadz dan ustadzah TPQ mungkin dianggap sebagai “profesi” yang tidak menjanjikan. Bahkan kalah mentereng dengan guru, apalagi dosen.

Nopo sing diulang teng kampus niku? Kan cuman teori?,” katanya mengingatkan. “Belum tentu apa yang disampaikan para dosen, juga mereka lakukan dalam keseharian,” tandasnya.

Saya yang kebagian kesempatan terakhir untuk menyampaikan hajat, hanya bisa diam, sedih dan bahagia dengan wejangan tersebut.

Dan mohon maaf, apa yang disampaikan beliau, khusus untuk santri yang sedang sowan. Tidak dalam kapasitas menyinggung kawan dan sahabat yang saat ini menjadi guru atau dosen. Pangapunten.

Terimakasih kiai, salam takdzim.

(Disalin dari Cak Syaifullah Ibnu Nawawi , 7 tahun silam)

Komunitas Wajib Menjadi Generasi Cari Aman

Pada hari Kamis tepatnya tanggal 24 Februarui 2022 Astra Motor Kalimantan Barat memberikan edukasi safety riding kepada komunitas Khambe C70 Kalimantan Barat guna meningkatkan kepercayaan generasi #Cari_Aman dalam berkendara dengan aman dan nyaman. Banyak Keseruan yang didapatkan oleh peserta dari quiz yang diberikan, pertanyaan tentang keselamatan berkendara hingga ajang diskusi terkait keselamatan berkendara.

Edukasi Safety Riding Tingkat Perusahaan yang diberikan ini ialah pak Prastya Agusta selaku Instruktur Safety Riding Astra Motor Kalimantan Barat yang sudah tersertifikasi oleh PT Astra Honda Motor. Edukasi Safety Riding yang berguna meningkatkan kepercayaan peserta dalam berkendara sebagai generasi #Cari_Aman ketika berkendara.    

Edukasi yang diberikan bersifat Online menggunkan Sistem Webinar yang dimana Astra Motor Kalimantan Barat selalu memberikan yang terbaik untuk komunitas agar tetap aman ketika mendapatkan edukasi safety riding, banyak games yang diberikan untuk peserta yang membuat edukasi safety riding ini sangat seru dan nyaman di ikuti.

Antofany Yusticia Ahmadi selaku Manager Marketing Astra Motor Kalimantan Barat mengungkapkan akan selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keselamatan berkendara yang terfokus dari setiap jajaran rana dari Sekolah, Instansi, Goverment, Komunitas hingga Umum, “Kami Selaku Pelopor Keselamatan Berkendara akan selalu memberikan edukasi safety riding kepada masyarakat tentang pentingnya berkendara secara #Cari_Aman agar masyarakat tetap aman ketika berkendara dari setiap jajaran rana Sekolah, Instansi, Goverment, Komunitas hingga Umum.”, Tuturnya.           

Press Rilis 24 Februari 2022

Meningkatkan Kepedulian dalam touring CB150X Explore Kapuas

Pada hari Jumat sampai Minggu tepatnya tanggal 18 Februari sampai 20 Februari 2022 Astra Motor Kalimantan Barat mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda, dan Journalis untuk merasakan keunggulan Product terbaru dari Honda yaitu CB150X dalam kegiatan Touring CB150X rute Pontianak – Sintang dengan jarak pulang pergi yang ditempuh sejauh 840KM. Alam Kalimantan Barat yang sungguh indah menjadi daya tarik tersendiri saat melakukan touring CB150X ini.

Honda CB150X sangat cocok untuk menjadi motor Touring di Kalimantan Barat, dari onroad hingga offroad Honda CB150X mampu menyusuri setiap perjalanan yang dilewati. Pada keseruan Riders kali ini, Astra Motor Kalimantan Barat mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda dan Journalis di Kalimantan Barat untuk merasakan ketangguhan motor Honda CB150X. salah satu keunggulan yang dimiliki dari motor CB150X ialah dari segi keiritan bahan bakar dengan kapasitas bahan bakar 12 Liter Mampuh menempuh jarak 420 KM  dengan aman dari Pontianak ke Sintang.

Kegiatan bertema Touring CB150X Explore Kapuas ini mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda dan Journalis selain menikmati keunggulan product CB150X dengan menyusuri Kalimantan Barat, para riders juga mendatangi Panti Asuhan Harapan Bunda di Sekadau untuk bersilahturahmi dengan penyerahan tali asih. Anak-anak Panti Asuhan Harapan Bunda dan Pengurus Panti menyambut dengan baik, dengan berbagai kasih yang diberikan Riders kepada anak-anak panti asuhan.

Rolling City juga dilakukan untuk memberikan pengalaman komunitas dalam berkendara di dalam perkotaan dengan tujuan area Mini Launching CB150X yang membuktikan motor Honda CB150X ini selain cocok digunakan untuk touring, motor ini juga cocok digunakan untuk kegiatan sehari-hari contohnya di perkotaan.

Aji Darmaji selaku member komunitas Honda mengungkapkan keseruannya dalam mengikuti kegiatan Touring CB150X Explore Kapuas yang bermanfaat dan meningkatkan kebersamaa antar komunitas,”Saya selaku perwakilan Komunitas Honda (Vario) berterima kasih atas keseruan-keseruan yang dibawakan ketika kita melaksanakan kegiatan Touring CB150X Explore Kapuas yang memberikan kegiatan untuk meningkatkan kebersamaan.”,Tuturnya.

Antofany Yusticia Ahmadi selaku Manager Marketing Astra Motor Kalimantan Barat mengungkapkan akan memberikan pengalaman terbaik menggunakan product Honda,”Kami Astra Motor Kalimantan Barat akan selalu memberikan pengalaman terbaik saat menggunakan Product Honda.”,Tuturnya.

Press Rilis 18 Februari 2022

 

Biografi K.H Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang

Biografi K.H Djamaluddin Ahmad Tambakberas Jombang

1.      Kelahiran
Beliau bernama Moh. Djamaluddin bin Achmad bin Hasan Mustajab bin Hasan Musthofa bin Hasan Mu’ali. Lahir pada tanggal 31 Desember 1943 di kampung Kedungcangkring Desa Gondanglegi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Ayah beliau bernama Achmad bin Hasan Mustajab dan ibunya bernama Hj Mahmudah / Djumini (nama sebelum haji) binti Abdurrahman bin Irsyad bin Rifa’i. Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu:
1.      Imam Ghozali yang meninggal pada umur 6 tahun,
2.      Jawahir
3.      Moh. Djamaluddin
4.      Zainal Abidin.

2.      Masa Kecil
Di waktu kecil sebelum sekolah di SR (SD sekarang), Djamal kecil senang tidur di rumah kakeknya dari ibu yang bernama Abdurrahman dan neneknya yang bernama Ummi Kultsum binti K. Tamyiz Banten. Ini disebabkan  karena kakek dan neneknya suka bercerita tentang Nabi-Nabi dengan dilagukan tembang-tembang jawa, sampai  sekolah di SR masih suka tidur  di rumah kakeknya dan bila siang hari suka mengikuti kakeknya.
Sekitar tahun 1952, Djamal kecil kalau malam hari mengaji di pondok Selorejo Peduluhan Combre Desa Gondang legi, yang diasuh oleh K. Abu amar. Dan suatu saat selama berbulan-bulan mengaji di tempat KH. Abdul Djalil gondang legi, suatu saat lagi selama berbulan-bulan mengaji di KH. Abdul Ghofur yakni adik dari neneknya sendiri. Semenjak dari usia itu diluar kegiatan belajar, di sore hari suka memancing dan kalo malam hari sehabis mengaji sering diajak teman-temannya yang sudah dewasa melihat wayang kulit, sehingga dari itu beliau punya hasrat untuk belajar di pesantren karena diilhami dari nonton wayang kulit yang kebetulan lakonnya adalah Raden Abimanyu yang berguru pada eyangnya  Begawan Abiyoso, karena dirasa Raden abimanyu seperti santri dan Begawan Abiyoso seperti kyai yang memakai serban yang selalu membawa tongkat dan selalu diikuti oleh seorang cantrik.
Setelah tamat SR, beliau ingin belajar di pondok pesantren Tambakberas Jombang atas saran pamannya yang bernama Suhat, karena pamannya ini belajar di sana dan  khidmah di rumah  KH. Abdul Fattah. Diwaktu akan berangkat ke pondok, beliau berpamitan kepada K. Abu Amar,
Kemudian Kiai Abu amar berwasiat; “Djamal, kowe nek mondok niatmu opo ?"
Beliau menjawab “Dereng saget Mbah.” Kiai Abu Amar menjawab “Kowe nek mondok ojo pisan-pisan niat dadi wong pinter, nanging niato golek ilmu sing manfaat.”
Setelah berpamitan pada Kiai Abu amar, kemudian sowan kepada KH. Abdul Ghofur yang berwasiat “Djamal ngertenono ilmu seng manfaat iku contone koyok banyu, banyu kuwi ora demen manggon ing tanah kang duwur, neng demen manggon ing tanah kang endek lan tanah kang ledok, tegese ilmu seng manfaat kuwi mung seneng manggon ono ing ati kang andap asor lan toto kromo, mulane mbeso’ kapan wes nang pondok bisoho dadi kesete santri.” Ketika berpamitan kepada ibunya, ibunya merasa keberatan karena merasa tidak mampu memberikan biaya untuk belajar di pondok, akhirnya selama 5 hari, setiap pagi beliau menangis di telapak kaki ibunya untuk diberikan restu belajar di pondok pesantren. Akhirnya ibunya memberikan restu juga dengan janji memberikan bekal yang sangat minim. Pada waktu berangkat, seperti santri-santri yang lain, beliau juga membawa beras, kelapa dan sedikit uang, berangkat dari rumah diikuti oleh ayah dan ibunya menuju ke jalan raya untuk menunggu kendaraan, mulai dari rumah sampai ke jalan raya selalu disertai tangisan dari kedua orang tuanya lebih-lebih ibunya. Akhirnya sampailah beliau di pondok Tambakberas Jombang, adapun bekal yang sangat minim tadi, setelah cukup untuk membayar becak, persyaratan-persyaratan masuk pondok dan madrasah, uang itu habis tinggal beberapa rupiah saja, untung dari rumah membawa beras dan kelapa sehingga cukup untuk hidup beberapa bulan.

3.      MASA PENDIDIKAN
Beliau berangkat ke pondok pesantren Tambakberas Jombang pada pertengahan 1956, masuk MI di kelas II dan dipertengahan tahun langsung masuk kelas III. Karena pondok mulai membangun Madrasah Mu’allimin, maka murid kelas I Mu’allimin diambil dari murid kelas VI MI, otomatis kelas V menjadi kelas VI, kelas IV menjadi kelas V dan kelas II menjadi kelas III. Selama di Tambakberas bekal beliau selalu kekurangan, pernah selama beberapa bulan terkadang sampai setahun hanya memasak nasi dan untuk lauknya hanya merebus air yang diberi garam, tumbar dan merica saja, terkadang dari ibunya disuruh membawa kedelai dan tepung untuk membuat rempeyek di pondok dan jika sudah habis maka keadaan akan kembali seperti semula, terkadang pula selama beberapa bulan hidup dengan cara lain yakni kalau pagi membeli sepotong singkong rebus dan kolak kacang hijau satu mangkok begitu pula di sore hari. Pada pagi hari yang kedua seperti itu juga dan pada sore hari yang kedua membeli nasi satu piring dan minum air kendi, Tapi ternyata itu semua belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perutnya sehingga bila malam tiba setelah jam 12 malam, ia mencari sisa-sisa intip nasi yang masih tersisa di kendil masak.
Sekitar pertengahan tahun 1959 beliau tamat MI kemudian masuk Mu’allimin. Pada pertengahan 1964 beliau tamat Mu’allimin lebih cepat karena dari kelas III beliau langsung masuk kelas V. Diwaktu masih duduk di kelas III, beliau sudah diperintah KH. Fattah untuk mengajar di Madrasah Wajib Belajar (MWB) di lingkungan pondok Tambak beras juga, adapun murid-muridnya pada waktu itu adalah; Luthfi Arif, Ansori Shehah, Lahnan, Shohib dan lain-lain. Disamping mengajar di MWB beliau juga mengajar di pondok putri Al-Fathimiyyah dan pondok putra (pondok induk sekarang) yakni di komplek Pangeran Diponegoro.
Pada waktu kelas V beliau dipercaya oleh kepala sekolah Mu’allimin yang waktu itu dijabat oleh KH. Ahmad Al Fatih sebagai ketua OSIS, dan dipercaya oleh pengurus pondok pesantren  sebagai ketua Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz, dan dipercaya oleh pelajar pesantren sedaerah kediri yang berdomisili di PP. Tebuireng, Sambong, Denanyar dan Tambakberas sebagai ketua Orda yang bernama IKPK (Ikatan Keluarga Pelajar Kediri).
Begitu tamat dari Mu’allimin, beliau diambil menantu oleh KH. Fattah mendapatkan putrinya yang bernama Churriyyah yang masih kelas I Mu’allimat.
Pada akhir tahun 1964 beliau mempunyai  keinginan untuk pindah ke pondok Lasem, namun masih belum tahu kepada kyai siapa, karena banyaknya kyai disana. Kemudian beliau beristikhoroh, pada istikhoroh pertama beliau melihat sebuah jeding dan musholla, lalu beliau mengambil air wudlu dan sholat dluha di musholla tersebut. Sesampainya di Lasem ternyata beliau menemukan bahwa itu adalah pondok Al- Wahdah yang diasuh oleh KH Baidlowi bin Abdul Aziz, seorang kyai yang ‘arif billah yang pada waktu itu menjadi Ro’is Thoriqoh se-Indonesia. Pada istikhoroh kedua, beliau merasa naik kendaraan yang berjalan begitu jauh yang kemudian turun di pasar, lalu beliau berjalan kaki turun ke jurang terus naik ke gunung, turun ke jurang lagi lalu naik ke gunung lagi, ternyata di atas gunung itu ada sebuah Masjid, beliau masuk masjid itu terus langsung sampai ke jerambahnya, waktu memandang ke timur tampak sebuah pondok yang banyak kamarnya, begitu pula waktu memandang ke barat dan utara, dan ketika memandang ke selatan tampak pemandangan yang bebas. Ternyata itu adalah sebuah pondok yang diasuh oleh Kiai Asy’ari Poncol Salatiga, sifat-sifat pondok itu persis seperti dalam mimpi. Pondok yang ditempati para santri berada di timur, barat dan utara masjid, sedang di selatan masjid terdapat sebuah sawah yang luas sekali sejauh mata memandang. Di pondok ini belajar mengaji setiap bulan Jumadil akhir mulai dari tahun 1967, 1968 dan 1969. yang dikajikan adalah kitab-kitab Bukhari Muslim dan Dala’ilul Khoirot disamping juga ijazah-ijazah yang lain.
Dipondok Salatiga itu pondoknya yang tetap di Lasem itu mulai tahun 1965 sedangkan pondok poncol salatiga hanya pada bulan Jumadil akhir saja. Setelah ada kepastian akan mondok di poncol salatiga, beliau berpamitan kepada KH Fattah, namun oleh beliau di suruh menunggu sejenak kurang lebih setahun, karena Kiai Fattah beserta Ibu Nyai mau berangkat haji. Awal tahun 1965 beliau baru berangkat ke Lasem dengan diantar adiknya yang bernama Zainal Abidin. Perjalanan Jombang-Lasem memakan waktu 2 hari 2 malam karena sulitnya kendaraan disebabkan adanya peristiwa G 30 S PKI.
Setelah satu tahun di Lasem, beliau dipercaya oleh santri-santri dari Madura dan Jatim yang ada di pondok Al-Ikhlas (Syaikh Masduqi Lasem), Al-Hidayah (Syaikh Ma’shum), serta pondok Al-Wahdah (KH. Baidlowi) untuk mendirikan organisasi santri yang disebut PUTRA SUNAN AMPEL, yang kegiatannya meliputi:
1.      Bahtsul Masa’il
2.      Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz
3.      Jam’iyyah Dziba’iyyah
4.      Olahraga yang berupa; Badminton, Volly Ball, Pencak Silat juga atraksi kekebalan tubuh.
Pada tahun 1967 beliau dipercaya oleh santri-santri Al- Wahdah menjadi ketua pondok, disamping itu banyak juga yang meminta ngaji, tidak tanggung-tanggung yang meminta ngaji adalah para kyai, seperti: Kiai Sulaiman yang mondoknya di Al-Ikhlas, minta ngaji Al-‘Arudl, Gus Abdul Halim (putra Kiai Muslim Kempek Cirebon), Gus Masyhadi putra (Kiai Harun Cirebon), Gus Nur, Gus Muhlisun dari Watu congol Magelang yang minta ngaji ‘Uqudul Jinan, disamping juga dari para santri Al-Wahdah yang meminta ngaji Riyadlus Sholihin dan ‘Idatul farid, begitu pula santri-santri dari pondok-pondok lain.
Selama kurang lebih 3 tahun mondok di Lasem, beliau tidak pernah pulang ke rumah, suatu hari setelah ‘ashar beliau mendapat surat dari ibunya yang isinya “Djamal muliho aku wis kangen.” Beliau menangis karena waktu itu beliau sudah berencana dan menabung untuk mondok di Mranggen Demak yang diasuh oleh KH. Muslih bin Abdurrahman untuk khataman kitab Al-Mahalli.
Pada waktu itu semua pakaian, kitab-kitab dan koper telah disiapkan, karena besoknya akan berangkat ke Demak. Beliau hanya bisa menangis karena satu sisi dia ingin mengaji dan disisi lain harus patuh pada ibunya. Akhirnya beliau sowan pada Kiai Baidlowi tanpa mengatakan apapun dan hanya menangis saja, tanpa bertanya Kiai Baidlowi berkata: "Cung, anak iku sing apik manut wong tuo.” Setelah sowan beliau langsung pulang, sampai di Jombang malam hari jam 11, terpaksa menginap di kamar pondok dan tidak sowan KH. Fattah karena takut akan diakadi sebab sebelum berangkat ke Lasem, beliau sudah positif diambil menantu namun belum  akadan karna permohonan keluarga Nganjuk agar menyelesaikan dulu menuntut ilmu di pondok pesantren.
Ternyata kepulangan beliau diketahui oleh Kiai Fattah dan Ibu Nyai Fattah yang ketika itu disertai ibu nyai Iskandar, kemudian Ibu Nyai Fattah berpesan, oleh karena akhir bulan Sya’ban itu akan diadakan Haflah Akhir Sanah (Imtihan), maka keluarga Gondang legi beserta ayah ibu beliau dan saudara-saudaranya diundang agar datang ke Tambakberas, akhirnya pada pelaksanaan  Akhirus Sanah, seluruh keluarga Gondanglegi menghadiri dan pulang keesokan harinya, namun beliau oleh Kiai Fattah tidak boleh pulang dulu seraya berkata kepada keluarga Gondang legi “Djamal kersane kentun rumiyen.”
Kira-kira keluarga masih ditengah perjalanan, beliau dipanggil oleh Kiai Fattah dan berkata “Djamal engko bengi kowe ta’ akadi, Mumpung mbah Bisri isih sugeng, lan iki duit kanggo mas kawin.” sambil mengambil uang Rp 1.000,- tanpa amplop dan dimasukkan ke dalam sakunya. Setelah sampai di kamar beliau menangis karena merasa bingung, satu sisi ayah dan ibu menghendaki akad nikah setelah selesai belajar di pondok dan disisi lain gurunya menghendaki dipercepat, dua hal yang bertentangan ini kemudian dipikir secara mendalam dan beliau ingat akan pelajaran guru akhlaq ketika masih di rumah yang pada waktu itu mengaji kitab Al-Mathlab bab akhlaq yakni apabila terjadi perbedaan pendapat antara guru dan orang tua maka yang harus didahulukan adalah guru. Akhirnya setelah itu beliau-pun siap untuk diakadi malam itu, akan tetapi karena tidak punya baju yang layak maka beliau-pun pinjam jas dari teman pondok yang bernama Afifuddin dari Magelang.

Oleh Bumi Damai Al-Arifin - Januari 23, 2017

Anak Sekolah Wajib Cari Aman ketika berada dijalan

Pada hari Kamis tepatnya tanggal 17 Februarui 2022 Astra Motor Kalimantan Barat memberikan edukasi safety riding kepada siswa-siswi SMK N 7 Pontianak guna meningkatkan kepercayaan generasi #Cari_Aman dalam berkendara dengan aman dan nyaman. Banyak Keseruan yang didapatkan oleh peserta dari quiz yang diberikan, pertanyaan tentang keselamatan berkendara hingga ajang diskusi terkait keselamatan berkendara.

Edukasi Safety Riding Tingkat SLTA yang diberikan ini ialah pak Prastya Agusta selaku Instruktur Safety Riding Astra Motor Kalimantan Barat yang sudah tersertifikasi oleh PT Astra Honda Motor. Edukasi Safety Riding yang berguna meningkatkan kepercayaan peserta dalam berkendara sebagai generasi #Cari_Aman ketika berkendara.    


Edukasi yang diberikan bersifat Online menggunkan Sistem Webinar yang dimana Astra Motor Kalimantan Barat selalu memberikan yang terbaik untuk siswa-siswi agar tetap aman ketika mendapatkan edukasi safety riding, banyak games yang diberikan untuk peserta yang membuat edukasi safety riding ini sangat seru dan nyaman di ikuti.

Antofany Yusticia Ahmadi selaku Manager Marketing Astra Motor Kalimantan Barat mengungkapkan akan selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keselamatan berkendara yang terfokus dari setiap jajaran rana dari Sekolah, Instansi, Goverment, Komunitas hingga Umum, “Kami Selaku Pelopor Keselamatan Berkendara akan selalu memberikan edukasi safety riding kepada masyarakat tentang pentingnya berkendara secara #Cari_Aman agar masyarakat tetap aman ketika berkendara dari setiap jajaran rana Sekolah, Instansi, Goverment, Komunitas hingga Umum.”, Tuturnya.       

Press Rilis 17 Februari 2022



 

Touring CB150X Diwarnai Berbagai Kegiatan Salah Satunya Ialah Mengunjungi Panti Asuhan

 

Pada hari Jumat sampai Minggu tepatnya tanggal 18 Februari sampai 20 Februari 2022 Astra Motor Kalimantan Barat mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda, dan Journalis untuk merasakan keunggulan Product terbaru dari Honda yaitu CB150X dalam kegiatan Touring CB150X rute Pontianak – Ketapang dengan jarak pulang pergi yang ditempuh sejauh 972KM. Alam Kalimantan Barat yang sungguh indah menjadi daya tarik tersendiri saat melakukan touring CB150X ini.

Honda CB150X sangat cocok untuk menjadi motor Touring di Kalimantan Barat, dari onroad hingga offroad Honda CB150X mampu menyusuri setiap perjalanan yang dilewati. Pada keseruan Riders kali ini, Astra Motor Kalimantan Barat mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda dan Journalis di Kalimantan Barat untuk merasakan ketangguhan motor Honda CB150X. salah satu keunggulan yang dimiliki dari motor CB150X ialah dari segi keiritan bahan bakar dengan kapasitas bahan bakar 12 Liter Mampuh menempuh jarak 486 KM dari Pontianak ke Ketapang.


Kegiatan bertema Touring CB150X Explore Kapuas ini mengajak komunitas Honda, Komunitas Non Honda dan Journalis selain menikmati keunggulan product CB150X dengan menyusuri Kalimantan Barat, para riders juga mendatangi Panti Asuhan Yatama di Ketapang untuk bersilahturahmi dengan penyerahan tali asih. Anak-anak Panti Asuhan Yatama dan Pengurus Panti menyambut dengan baik, dengan berbagai kasih yang diberikan Riders kepada anak-anak panti asuhan.

Rolling City juga dilakukan untuk memberikan pengalaman komunitas dalam berkendara di dalam perkotaan dengan tujuan area Mini Launching CB150X yang membuktikan motor Honda CB150X ini selain cocok digunakan untuk touring, motor ini juga cocok digunakan untuk kegiatan sehari-hari contohnya di perkotaan.

Anyim selaku member komunitas Non Honda mengungkapkan keseruannya dalam mengikuti kegiatan Touring CB150X Explore Kapuas yang keren dan meningkatkan kebersamaa antar komunitas,”Saya selaku perwakilan Komunitas Non Honda (Vixion) berterima kasih atas keseruan-keseruan yang dibawakan ketika kita melaksanakan kegiatan Touring CB150X Explore Kapuas yang memberikan kegiatan untuk meningkatkan kebersamaan.”,Tuturnya.

Antofany Yusticia Ahmadi selaku Manager Marketing Astra Motor Kalimantan Barat mengungkapkan akan memberikan pengalaman terbaik menggunakan product Honda,”Kami Astra Motor Kalimantan Barat akan selalu memberikan pengalaman terbaik saat menggunakan Product Honda.”,Tuturnya.

Press Rilis 18 Februari 2022

8 Golongan Yang behak Menerima Zakat


 Perintah untuk memberikan zakat sudah termaktub dalam surat At Taubah ayat 60 yang berbunyi:

"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha bijaksana."

Maka, berzakat sangat dianjurkan apalagi kepada 8 golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat, di antaranya: 

  1. Fakir, yakni orang yang tidak mempunyai harta atau penghasilan layak dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, tempat tinggal dan segala keperluan pokok lainnya, baik untuk dirinya sendiri maupun rang yang menjadi tanggungjawabnya. Contoh : seseorang mmemerlukan uang Rp. 100.000 untuk kehidupan dalam sehari, tetapi ia hanya mempunyai Rp. 30.000 atau 20.000 saja.
  2. Miskin, yakni orang yang mempunyai penghasilan atau harta layak dalam memenuhi keperluannya dan keperluan orang yang menjadi tanggungannya tetapi tidak sepenuhnya tercukupi misalnya : seseorang memerlukan uang 100.000 tetapi ia hanya memiliki 60.000 atau 80.000 saja.
  3. Amil Zakat (Panitia Zakat), yakni orang yang melaksanakan segala sesuatu yang berkenaan dengan kegiatan zakat.
  4.  Muallaf, yakni orang yang diharapkan kecenderungan hatinya atau keyakinannya dapat bertambah terhadap islam atau terhalang niat jahatnya tersebut terhadap kaum muslim, atau orang yang diharapkan akan ada manfaat dalam membela dan menolong kaum muslim dari musuh.\
  5. Rigaab (budak), yaitu budak yang telah dijanjikan oleh tuannya akan dimerdekakan bila telah melunasi harga dirinya yang telah ditentukan.
  6. Al Ghariim, yaitu orang yang berhutang dan tidak mampu membayarnya.
  7. Sabilillah, yaitu setiap orang yang berusaha taat kepada Allah SWT, dan menjalankan kebaikan misalnya tentara sukarelawan, para pelajar dan santri, kiay, muballigh, dan lain lain.
  8. Ibnu Sabil (Musafir), yaitu orang yang sedang dalam perjalanan lalu kehabisan perbekalan, dengan syarat perjalanan tersebut bukan untuk maksiat.

Pengertian Zakat dan macam macam Zakat

Zakat menurut bahasa berarti berkah, tumbuh, bersih baik, dan bertambah. sedangkan menurut istilah zakat ialah sebutan atau nama bagi sejumlah harta tertentu yang di wajibkan Allah SWT. Supaya diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima.

Macam macam Zakat

Zakat dibagi menjadi dua :

  1. Zakat Maal (Harta) ialah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib dikeluarkan atau diberikan kepada orang orang tertentu setelah mencapai jumlah minimal tertentu dan setelah dimiliki selama jangka waktu tertentu pula.
  2. Zakat Fitrah (zakat badan) ialah zakat yang diwajibkan pada akhir bulan Ramadan bagi setiap muslim, baik anak kecil maupun dewasa, baik laki laki maupun perempuan, dan baik orang merdeka maupun hamba sahaya.